11
2009
New Wave Marketing = Spiritual Marketing
ShareSekelumit oleh-oleh dari MarkPlus Conference 2010
Krisis besar yang melanda dunia ekonomi pada tahun 2008-2009 sesungguhnya merupakan bentuk lain dari keruntuhan era kapitalisme. Hal ini diperkuat oleh Jeffrey Immelt CEO ari General Electric (GE) yang mengatakan bahwa badai krisis yang dilalui telah menyadarkan perusahaan bahwa praktek bisnis secara fundamental harus di format ulang.
Bahwa praktek-praktek yang berlandaskan nilai-nilai dan prinsip yang lebih etis sangat penting untuk dikemukakan dalam menyambut kedatangan “New World Economic Order” mendatang.
Dalam gelombang krisis 2008-2009 dimana dunia bisnis sangat penuh dengan etika bisnis yang compang-camping, sangat terasa bahwa kejujuran merupakan “resources” yang semakin langka bagi perusahaan. Godaan untuk melakukan bisnis secara tidak jujur sedemikian kuat hingga tak banyak perusahaan yang mampu melakukannya.
Apa artinya? artinya bahwa sebenarnya nilai kejujuran yang mulai langka itu sangat bisa untuk di leverage menjadi sebuah komponen penting agar unggul dalam persaingan. Bukankah secara teori ekonomi bahwa jika ada perusahaan yang mampu melakukan sesuatu yang sulit dilakukan oleh perusahaan lain, maka ia akan memiliki daya saing yang kuat? Tidak hanya kuat. Tapi Sustainable dalam jangka panjang.
Dalam paparannya Hermawan Kertajaya menyampaikan bahwa dalam tahun mendatang sangat penting bagi perusahaan membongkar ulang visi misi perusahaannya dan menambahkan satu lagi komponen yaitu : NILAI SPIRITUAL.
Mengapa? karena untuk meraih pelanggan di tahun mendatang tidak cukup lagi hanya dengan menyentuh kebutuhan fisik mereka. Tapi juga harus menyentuh MIND, HEART, dan SPIRIT. Hal ini untuk lebih mendekatkan produk dengan pelanggannya.
Jika suatu produk mampu menyentuh pikiran (mind) kemudian disukai secara emosional, maka pelanggan ini bukan hanya setia membeli, tapi juga akan menjadi agen yang merekomendasikan produk ini pada orang lain. Kekuatan ini akan lebih bertambah saat nilai spititual yang ditawarkan oleh sebuah produk akhirnya berubah menjadi fanatisme akan produk.
Diawali dengan Visi-Misi yang jelas, kemudian membangun karakter produk yang sarat dengan nilai (value based) dilanjutkan dengan terus menerus mendengarkan keinginan pelanggan sebagai perangkat self-controlling yang ditindak lanjuti dengan perbaikan secara terus menerus serta didukung dengan fasilitas social network yang semakin popular sebagai perangkat strategic collaboration tentunya akan menghasilkan sebuah gelombang fanatisme akan produk itu sendiri.
Kalau sudah begitu, perusahaan tinggal melakukan Total Action dalam setiap langkah bisnisnya dan menjadi raja di era new economic mendatang.
Sebenarnya hal ini sama sekali bukan barang baru. Beberapa tahun lalu ide perusahaan berbasis spiritual telah santer didengungkan lewat berbagai buku seperti Mega Trend 2000, Corporate Mystic, Good To Great. Di Indonesia sendiri sempat beredar buku Best Seller: ESQ yang diikuti dengan rangkaian training fenomenalnya juga sangat gencar mendengungkan ide Spiritual era ini.
Namun entah mengapa tahun 2008/2009 justru banyak perusahaan yang meninggalkan nilai-nilai spiritual dan mengedepankan praktek-praktek kapitalisme. Bahkan perusahaan yang semula sudah berbasis nilai-nilai spiritualpun turut bergeser menjadi “agak” kapitalis. Tak pelak gelombang PHK pun kembali melanda.
Dalam MarkPlus Conference 2010 ini kembali Hermawan Kertajaya mengajak para pelaku bisnis Indonesia untuk melakukan pergeseran mendasar dalam pola bisnis terutama Marketingnya.
Perusahaan harus bertransformasi dari Intelektual (marketing 1.0) menuju emosional (marketing 2.0) dan akhirnya ke human spirit (marketing 3.0).
Dikatakannya bahwa sehebat apapun strategi bisnis yang dijalankan, secanggih apapun perangkat yang dimiliki, semuanya tidak akan ada gunanya kalau tidak dilandasi nilai-nilai spiritualitas yang kokoh.
Jadi ternyata Marketing 3.0 = Spiritual Marketing
Salam Ajaib
karena selalu ada keajaiban setiap hari
Incoming search terms:
- spiritual marketing
- teori marketing 1 0
- spiritual marketing indonesia
- teori new vawe marketing
- teori tentang new wave marketing : marketing 1 0

An article by Thiar












Spiritualitas sebenarnya sudah sejak Nabi Adam menjadi keharusan. Tapi kita sering lupa.
Wah…Keren Banget Blognya….
Terbukti sudah, barat dengan kapitalismenya akan segera runtuh karena memang tidak mengusung unsur fairness sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
realita yang hampir ada dimana2.. semoga kita mash bisa mnjunjung nilai2 spiritualis tersebut agar tidak men zholimn orang-orang di sekitar kita.. amin……..
konsep spiritual bisnis sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan sifat beliau yg bisa dipercaya karena kejujurannya
thanks info,,, salam,,,,,,,,